Candi Penampihan
Candi penampihan terletak di desa
Geger kec. Sendang kab. Tulungagung. Berada di lereng gunung wilis. Candi ini
adalah candi peninggalan Mataram Kuno pada tahun 898 masehi.
Sejarah candi,Penampihan berasal
dari kata “Tampik” bahas Indonesianya adalah di “tolak”, dari Legenda yang
adadiceritakan bahwa ada pembesar dari kota ponorogo yang bermaksud untuk
melamar dan menikahi putri yang berasal
dari kerajaan kadiri yang bernama Dewi Kilisuci yang beparas cantik dan
mempesona, jika ada laki-laki yang memandangnya pasti langsung jatuh hati
kepadannya.
Pembesar dari wilayah ponorogo
beserta rombonganya berangkat menuju ke kerajaan Kediri, lengkap dengan
keperluan pernikahan. Sang pembesar ponorogo tadi menyuruh kurinya menyampaikan
maksud dan tujuan datang ke kerajaan Kediri yaitu untuk menikahi dewi kilisuci,
tetapi dewi kilisuci menolak. Sehingga mengakibatkan pembesar dari ponorogo
malu dan enggan kembali ke daerahnya. Pembesar tersebut.
Pembesar itu singgah di kaki
gunung wilis dan membagun tempat suci atau candi serta menghabiskan
hari-harinya di candi, melihat bangunan candi itu dalam kondisi dimabuk asmara
maka candi itu dinamakan candi “ asmara bagun” di saat pendirian bangunan candi
tesebut diadakanya pagelaran wayang kulit semalam suntuk, candi itu digunakan
sebagai tempat pemujaan.
Candi penamian terdiri dari 3
teras, teras pertama yaitu teras yang berada di bagian bawah sendiri, di teras
ini terdapat prasasti trinulad, prasasti ini bertulikan dengan bahasa jawa kuno
dan tertera tahun 820 casta / 890 masehi. Prasasti ini dinamakan trinulad
karena merupaka salinan prasastiyang pembuatanya lebih ditekankan pada unsur
legitimasi seorang penguasa atau raja
Prasasti
tersebut menyebutkan seorang raja putrid an menyebutkan nama mahesa lalatan.
Kemudian di bawahnya terdapat bangunan seperti altar yang disusun dari batuan
andesit berbentuk lonjong. Di depan prasati terdapat arca Bima yang sekarang
tidak ada kepalanya, karean ulah tngan jahil, dan terdapat dua buah arca tokoh
wanita serta sebuah bola batu yang sekarang tidak ada di lokasi, d teras
pertama terdapat pula dprasati yang di pahat di atas lempengan tembaga yang
dikenal sebagai prasasti sawardhama yang bertuliskan 1191 c dan dikeluarkan
pada tahun 1269 dan dapat diketahui bahwa candi penampihan berhubungan dengan
tokoh kertanegara/ tokoh yang menghidupkan kembali upacara agama yang mati.
Pada bagian atas candi induk
terdapat sepasang arca naga bermahkota, kepala garuda, sepasang kera, di depan
candi induk terdapat retjo pentung juala pala. Di sebelah kiri candi terdapat
terdapat sebuah relief hewan seperti kodok, celeng, macan dll. Dan relief yang
menggambarkan tiga gajah untuk membajak. Tetapi relief ini sudah berada di
museum trowulan mojokerto. dan batu bata sebagai tulisannya.

No comments:
Post a Comment